Generasi Instan di jaring Laba-laba

internet-siswa

Luar biasa, itulah kata-kata yang paling tepat untuk menggambarkan keserbacepatan segala sesuatu saat ini. Hampir semua lini kehidupan berpacu dalam hitungan detik. “Dunia sedang bergerak sangat cepat melalui titik-titik sejarah yang amat menentukan”, demikian keyakinan Gordon Dryden dan Jeannette Vos dalam bukunya Revolusi Cara Belajar (Dryden & Gordon, 2002). Lebih lanjut mereka mengatakan, “untuk pertama kalinya dalam sejarah, hampir segala hal mungkin dilakukan”. Betul apa yang mereka berdua katakan. Detik ini kita bisa menikmati suguhan berita uptodate dari segala penjuru dunia, klik saja BBC.com atau CNN.com atau Kompas.com atau Republika.com atau detik.com atau lombokpost.net dan ratusan portal berita lainnya. Kepala kita akan disuguhi jutaan informasi dalam waktu yang amat singkat. Variasi berita pun luar biasa banyaknya sampai website itu kebingungan menata direktori atau kategori informasi yang ada, mulai dari berita politik, kriminal, travelling, bola, hiburan, kuliner hingga seksologi. Semuanya ada, tinggal klik saja. Mampukah memori kepala kita merekam semuanya?. Bahkan dikhawatirkan kepala kita akan kebanjiran informasi yang mungkin saja tidak kita butuhkan. Para pakar informasi menyebutnya junk information (informasi sampah) atau information flood (kebanjiran informasi).

Kemampuan Memfilter Informasi

Mengingat banjirnya informasi yang masuk ke kepala kita, dibutuhkan suatu cara atau strategi bagaimana menyaring berita dan informasi yang bermutu dan bermanfaat terutama bagi para pelajar yang memang haus informasi. Di sinilah peran orang tua dan guru sangat dibutuhkan. Perlu suatu prosedur standar bagi siswa agar mereka tidak tersesat di rimba informasi yang ujung-ujungnya nanti mereka bisa saja mengambil kesimpulan sendiri yang belum tentu benar. Dikhawatirkan mereka mengambil jalan pintas seperti apa yang mereka rekam dari lingkungan pergaulan mereka seperti dari video online atau game online. Sudah banyak kasus bagaimana siswa meniru adegan-adegan berbahaya yang mereka tonton lalu dipraktikkan sendiri. Tidak mudah memang bagi guru di sekolah dalam memberikan bimbingan. Sementara 2/3 waktu para siswa dihabiskan di luar sekolah. Sehingga solusi boarding school (sekolah berasrama) sebagaimana yang diusulkan oleh beberapa pemerhati pendidikan seperti Dr. Mugni Sn dapat dijadikan pertimbangan oleh pemerintah dalam mengambil kebijakan dan para orang tua untuk kelanjutan pendidikan anak-anaknya (Lombok Post, 19 Mei 2016).

Antara Smart Generation dan Shock Generation

Kemajuan informasi memang sangat mengutungkan bagi kita yang hidup saat ini. Kita mulai meninggalkan dunia analog menuju dunia digital. Contoh sederhanyanya, dulu kita pake timbangan yang bacaannya ditunjuk oleh jarum penujuk, kini sudah menggunakan Angka yang langsung dibaca di layar. Semua produk berwajah digital. Ditambah lagi kehebatan layar sentuh (touch screen) yang tidak saja merevolusi gaya kita dalam berkomunikasi melalui dunia handphone dan smartphone tetapi juga sudah menjalar ke alat elektronik lain seperti televisi, komputer, tablet, smartwatch. Kita berhutang budi kepada Steve Jobs untuk kehebatan ini. Teknologi HP pun sudah tidak lagi hanya telponan dan sms-an, kini sudah beralih ke facebookan, twitteran, googling, dan sebagainya dengan hanya menggores-gores layar (dari typing menjadi taping). Google pun terus memanjakan para netter dalam pencarian. Sekarang kita tidak perlu repot menuliskan kata-kata pencarian dengan mengetik katanya, tetapi cukup dengan suara saja. Jadi nanti untuk mengetik naskah yang panjang dalam bahasa Inggris misalnya kita cukup ngomong saja di depan komputer yang dilengkapi microphone, nanti komputer akan mengetik kata-kata itu dan langsung menerjemahkannya ke dalam berbagai bahasa yang kita tentukan. Smart bukan? Jadi anak-anak kita saat ini lahir di era smart technology sehingga diapun beradaptasi menjadi smart generation. Namun demikian, teknologi ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi sangat bermanfaat bagi kemudahan hidup kita, tapi di sisi lain ada bahaya yang mengintai. Betapa banyak kasus penipuan melalui media sosial facebook dan twitter, betapa banyak kasus pornografi, peredaran Narkoba, pemerkosaan, dan pembunuhan yang awalnya dari pengaruh negatif media smart ini. Ada banyak kasus yang perlu menjadi perhatian semua pihak. Sehingga diperlukan cara baru di era baru ini. Generasi atau anak didik kita saat ini menghadapi tantangan yang berat. Mereka selalu disuguhkan oleh berbagai kemajuan smartphone dan transportasi modern. Sementara kondisi ekonomi mereka masih belum sanggup untuk membeli barang-barang itu. Inilah yang menjadi salah satu sumber masalah remaja dewasa ini. Mereka ini bisa saja menjadi goncang karena tidak siap dengan semua ini. Mereka ini sering dijuluki shock generation.

Sebuah Solusi

Kondisi shock generation tadi tentu berbahaya. Sementara para pengusung teknologi berbaju kapitalis tidak mampu memberikan solusi komprehensif untuk memperbaiki moral yang rusak dari efek negatif teknologi. Smart generation seharusnya mampu melahirkan smart solution. Namun beberapa solusi berikut dapat dijadikan bahan pertimbangan.

  • memperbanyak siswa memasuki boarding school/pondok pesantren untuk memfilter informasi dan melatih disiplin remaja usia sekolah
  • memperbanyak informasi-informasi penting di laman online berkaitan dengan akhlak, tata krama, sopan santun, etika, adab, dan sejenisnya.
  • memperdalam matapelajaran agama dan etika yang tidak terbatas pada ranah kognitif saja.
  • memfilter informasi negatif baik dari internet di sekolah (misalnya melalui filter speedy), warnet, atau media televisi di rumah. Para orang tua perlu mengontrol etika dan hiburan bagi anak-anaknya.
  • negara harus menjamin kualitas tontonan dan hiburan dan media televisi nasional, acara televisi jangan dibiarkan bebas tanpa arah karena TV adalah media yang paling mudah dalam membentuk karakter masyarakat.
  • pemerintah/pemerintah daerah harus tegas membuat peraturan untuk melindungi rakyatnya dari jeratan kejahatan-kejahatan di dunia digital ini.

Demikian sekilas masalah yang dihadapai dunia pendidikan saat ini. Bagi pembaca yang memiliki solusi silakan berikan komentar.